top of page
  • Instagram Nutapos - Aplikasi Kasir Kuliner
  • Nutapos - Aplikasi Kasir Kuliner
  • LinkedIn
  • YouTube Nutapos - Aplikasi Kasir Kuliner
  • TikTok Nutapos - Aplikasi Kasir Kuliner

Growth Mindset: Pola Pikir yang Harus Dimiliki Pemilik Bisnis Kuliner

Sticky notes bertuliskan growth mindset dikelilingi simbol tanda tanya, tanda seru, dan lampu.
Sticky notes bertuliskan growth mindset dikelilingi simbol tanda tanya, tanda seru, dan lampu.

Pengusaha sukses di industri kuliner Indonesia memiliki satu kesamaan; mereka memiliki growth mindset atau pola pikir bertumbuh.


Selain fokus pada hasil akhir, mereka juga menghargai setiap proses pembelajaran dalam membangun bisnis dan melihat setiap tantangan sebagai peluang untuk tumbuh.


Mulai dari mencari resep yang disukai pelanggan, menjaga kualitas bahan baku, hingga mengelola tim yang solid.


Berbeda dengan pemilik yang memiliki fixed mindset (pola pikir statis), di mana mereka mudah terjebak dalam zona nyaman dan enggan keluar dari kebiasaan.


Mereka cenderung menyalahkan faktor eksternal atas kegagalan dalam membuat keputusan bisnis dan sulit menerima kritik.


Agar Anda tidak terjebak dalam zona nyaman, mari kita kupas tuntas tentang kedua pola pikir ini dan bagaimana cara menerapkannya dalam bisnis kuliner Anda.

Daftar Isi

Apa Itu Growth Mindset?


Apa Itu Fixed Mindset?


Perbedaan Antara Growth Mindset dan Fixed Mindset

  1. Persepsi Terhadap Kecerdasan dan Kemampuan

  2. Penerimaan terhadap Kritik dan Saran

  3. Reaksi Terhadap Keberhasilan Orang Lain


5 Cara Membangun Growth Mindset bagi Pemilik Bisnis Kuliner

  1. Rayakan Setiap Proses, Bukan Hanya Hasil Akhir

  2. Ubah Pandangan Terhadap Kegagalan

  3. Terus Belajar dan Berkembang

  4. Terbuka terhadap Kritik dan Saran

  5. Jadilah Inspirasi bagi Orang Lain


Mengubah Pola Pikir Karyawan/Tim Bisnis Kuliner Anda

  1. Memberikan Contoh Melalui Tindakan

  2. Menghargai Usaha dan Perkembangan Karyawan

  3. Memberikan Ruang untuk Karyawan Mencoba Hal Baru/Belajar dari Kesalahan


Kesimpulan

Apa itu Growth Mindset?

Growth mindset adalah pola pikir yang mempercayai bahwa kemampuan bisa dikembangkan dengan usaha dan belajar.


Orang dengan pola pikir ini selalu mencari cara untuk jadi lebih baik. Mereka tidak takut gagal karena melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.


Contohnya, ketika seseorang tengah membuat resep baru dan hasilnya tidak sesuai harapan, dia akan menganalisis kesalahannya dan mencoba lagi sampai berhasil.


Karena mereka percaya suatu halangan bukan untuk dihindari, hal ini membuat pola pikir mereka jadi lebih fleksibel dan inovatif. Selalu siap menghadapi perubahan dan mencari solusi baru.


Apa itu Fixed Mindset?

Fixed mindset adalah pola pikir di mana seseorang percaya bahwa kemampuan dan kecerdasan mereka sudah ditentukan sejak lahir dan tidak bisa diubah.


Makanya, mereka cenderung menghindari tantangan karena takut gagal atau terlihat kurang mampu di mata orang lain. Mereka sering kali berpikir, "Saya memang tidak berbakat dalam hal ini, jadi untuk apa mencoba?"


Contohnya, seorang pemilik kedai kopi yang merasa metode seduh yang dipelajari bertahun-tahun lalu sudah paling benar.


Dia enggan mencoba cara, resep, atau inovasi baru karena takut hasilnya tidak sesuai harapan.


Namun, ketika hasil seduhan tidak disukai pelanggan, mereka menyalahkan faktor eksternal seperti selera pelanggan yang berbeda atau bahan baku yang tidak berkualitas.


Akibatnya, bisnis bisa tertinggal karena tidak mau beradaptasi dengan perubahan dan tren pasar.


Fixed mindset membuat seseorang menjadi tidak fleksibel dan menolak perubahan, akhirnya bisa menghambat perkembangan pribadi dan bisnis mereka.


Perbedaan Antara Growth Mindset dan Fixed Mindset

Memahami perbedaan dua pola pikir ini penting bagi pemilik bisnis kuliner. Sebab, bisa mempengaruhi cara Anda menjalankan bisnis dan menghadapi tantangan sehari-hari.


1. Persepsi Terhadap Kecerdasan dan Kemampuan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, orang dengan pola pikir bertumbuh percaya bahwa kecerdasan dan kemampuan bisa berkembang dengan usaha dan pembelajaran.


Mereka ingin terus mengasah kemampuan dan pengetahuan, sebab percaya bahwa setiap usaha akan membawa peningkatan.


Sebaliknya, orang dengan fixed mindset tidak mengindahkan hal ini. Mereka berpikir bahwa bakat, keahlian, dan kecerdasan adalah bawaan sejak lahir dan tidak bisa diganggu gugat.


Sederhananya, mereka tidak mau ambil pusing karena sudah merasa puas dan lebih unggul. Contohnya yang paling umum adalah penggunaan teknologi.


Banyak pemilik bisnis kuliner yang tidak mau mengadopsi teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi operasional.


Selain membuang waktu dan energi, mereka yakin bahwa kemampuan yang ada dalam mengelola bisnis tidak bisa jadi lebih baik dari sekarang.


Akibatnya, bisnisnya tetap berjalan dengan cara konvensional yang kurang efisien, dengan risiko kesalahan manual yang tinggi dan kurangnya data yang akurat untuk pengambilan keputusan.


2. Penerimaan terhadap Kritik dan Saran

Ketika seorang chef mendengar dan menghadapi kritik pelanggan terhadap menu barunya, ada dua kemungkinan reaksi: merasa defensif dan terpuruk atau ingin cari tahu lebih lanjut.


Seseorang dengan growth mindset akan memberikan tanggapan kedua. Dia akan mengambil kritik tersebut sebagai feedback konstruktif.


Dia akan menganalisis apa yang kurang dari menunya dan mencari cara untuk memperbaikinya. Jadi, kritik atau saran hanyalah batu loncatan saja untuk menjadi lebih baik.


Namun, orang dengan fixed mindset melihat tantangan ini sebagai ancaman terhadap kemampuan dan harga diri mereka, karena takut gagal atau terlihat tidak kompeten.


Alih-alih mencari solusi kreatif untuk memperbaiki menu, dia mungkin memilih untuk tetap dengan cara lama yang sebenarnya sudah tidak relevan.


Contoh lainnya, ada seorang manajer restoran yang menerima komplain dari pelanggan terkait operasional bisnis.


Apabila dia memiliki pola pikir bertumbuh, dia tidak akan merasa marah atau berusaha membela diri, namun mendengarkan keluhan dan mencari solusi.


3. Reaksi Terhadap Keberhasilan Orang Lain

Pemilik usaha atau staff yang memiliki fixed mindset pasti tidak menyukai daftar pertanyaan di bawah ini.


  • Mengapa Anda merasa kesuksesan orang lain mengancam posisi Anda?

  • Apa yang membuat Anda tidak bisa melihat peluang untuk belajar dari keberhasilan mereka?

  • Mengapa Anda lebih memilih untuk meremehkan pencapaian orang lain daripada mendukungnya?

  • Bagaimana jika keberhasilan orang lain bisa membawa manfaat besar bagi seluruh tim atau bisnis?

  • Apa yang membuat Anda yakin bahwa hanya ada satu cara yang benar untuk mencapai kesuksesan?


Apabila dicontohkan, ketika seorang pemilik restoran dengan fixed mindset melihat restoran tetangga selalu ramai, mereka akan merasa terintimidasi.


Ada pula rasa iri dan cemburu yang mendorong mereka untuk meremehkan pencapaian tersebut.


Terkadang, ada saja yang sampai menyebarkan rumor buruk agar pelanggan atau bisnis lainnya ikut tidak menghargai keberhasilan tersebut.


Sebaliknya, pemilik usaha dengan growth mindset akan merasa terinspirasi oleh kesuksesan orang lain.


Mereka melihat kesuksesan tersebut sebagai bukti bahwa usaha keras dan belajar bisa membawa hasil yang baik.


Misalnya, seorang pemilik warung kopi yang melihat temannya sukses membuka cabang baru akan merasa termotivasi dan terpicu untuk mengikuti jejaknya.


Dia akan mempelajari apa yang telah dilakukan temannya dan mencoba menerapkan strategi serupa untuk mengembangkan bisnisnya.


5 Cara Membangun Growth Mindset bagi Pemilik Bisnis Kuliner

Berikut 5 cara yang bisa Anda lakukan dari sekarang untuk membangun pola pikir berkembang:


1. Rayakan Setiap Proses, Bukan Hanya Hasil Akhir

Bisnis memang mengejar keuntungan. Namun, alangkah baiknya jika fokus Anda tidak tertuju pada hasil akhir saja, seperti target penjualan atau banyaknya ulasan positif pelanggan.


Penting juga untuk merayakan setiap proses yang dilalui untuk mencapai tujuan tersebut. Contohnya, jika tim dapur Anda berhasil mengurangi waktu penyajian makanan melalui peningkatan koordinasi, beri dulu mereka apresiasi.


Hal ini bisa berupa ucapan terima kasih, pengakuan keberhasilan dalam pertemuan tim, atau bahkan hadiah kecil.

Pemilik usaha mengapresiasi karyawannya dalam sebuah meeting, mencerminkan growth mindset.
Pemilik usaha mengapresiasi karyawannya dalam sebuah meeting, mencerminkan growth mindset.

Mengapresiasi proses ini akan berdampak baik dalam meningkatkan semangat kerja tim. Ketika tim merasa usaha mereka dihargai, mereka akan lebih termotivasi untuk berinovasi dan mengambil inisiatif.


Selain itu, rayakan juga pencapaian individu, seperti seorang pelayan yang berhasil menangani keluhan pelanggan dengan baik dalam situasi yang sulit.


Dengan begitu, Anda menunjukkan bahwa setiap langkah kecil menuju perbaikan sangat berharga dan layak dirayakan.


Hasilnya, hal kecil ini bisa membawa dampak positif pada bisnis Anda secara keseluruhan dan membangun budaya kerja yang menghargai usaha dan proses.


2. Ubah Pandangan Terhadap Kegagalan

Kegagalan umumnya dianggap sebagai sesuatu yang negatif dan harus dihindari. Namun, dalam membangun growth mindset, lihatlah kegagalan sebagai bagian dari perjalanan menuju kesuksesan.


Mulai dari hal kecil saja. Semisal Anda ingin memperkenalkan menu baru, namun respon dari pelanggan kurang memuaskan.


Daripada langsung merasa gagal dan menghapus inovasi tersebut, analisis dulu apa yang kurang dari berbagai perspektif.


Mungkin presentasinya perlu diperbaiki, atau mungkin rasanya perlu disesuaikan dengan selera pelanggan dari berbagai kalangan. Gunakan feedback yang Anda terima untuk melakukan perbaikan.


Dengan membiasakan diri untuk melihat kegagalan sebagai peluang belajar, Anda akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih dinamis dan inovatif.


Karyawan akan merasa didukung untuk mencoba hal-hal baru, dan Anda akan melihat peningkatan dalam kreativitas dan produktivitas tim bisnis.


3. Terus Belajar dan Berkembang

Kesempatan belajar itu selalu tersedia, tidak berhenti pada saat Anda sudah berhasil membuka usaha.


Pasalnya, aspek dalam dunia kuliner selalu berkembang dengan tren baru, teknologi, dan metode manajemen operasional atau karyawan yang terus berubah.


Anda perlu memiliki pemahaman bahwa pengetahuan dan keterampilan sekarang harus bisa ditingkatkan lagi dan lagi.


Anda bisa mengikuti kursus online tentang manajemen restoran atau membaca buku-buku terbaru tentang inovasi dalam industri makanan dan minuman.


Jika ada seminar atau konferensi yang relevan, sisihkan dana dan luangkan waktu untuk mengikutinya. Di sana, Anda bisa mendapatkan wawasan baru, bertemu dengan sesama pemilik bisnis, dan berbagi pengalaman.


Selain itu, berlangganan jurnal atau majalah kuliner juga bisa menjadi sumber informasi yang bermanfaat.


Jangan lupa untuk memanfaatkan teknologi, seperti podcast atau webinar, yang bisa Anda dengarkan atau tonton kapan saja.


4. Terbuka terhadap Kritik dan Saran

Kritik dan saran, baik dari pelanggan maupun tim, merupakan umpan balik yang berharga untuk memperbaiki satu atau lebih aspek dari bisnis Anda.


Jadi, ketika Anda mendengar masukan negatif, jangan langsung jadi defensif. Sebaliknya, lihatlah hal itu sebagai kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.


Contohnya, ada pelanggan yang mengeluh tentang layanan yang lambat; jangan langsung mengabaikannya.


Tanyakan penjelasan lebih lanjut pada pelanggan dan lakukan evaluasi dengan tim untuk mencari tahu penyebabnya. Mungkin ada masalah dengan koordinasi antar staf atau sistem yang digunakan kurang efisien.


Dengan mendengarkan kritik dan mencari solusi, Anda bisa meningkatkan kualitas layanan dan kepuasan pelanggan.


Selain itu, dorong karyawan Anda untuk memberikan feedback yang berguna untuk bisnis. Buat lingkungan kerja di mana mereka merasa nyaman untuk menyampaikan kritik tanpa takut dihukum.


5. Jadilah Inspirasi bagi Orang Lain

Sebagai pemimpin, sikap dan tindakan Anda memiliki dampak langsung pada tim. Sebab, Anda merupakan sosok yang akan mereka contoh.


Jika Anda menunjukkan semangat untuk terus belajar dan berkembang, kemungkinan karyawan Anda akan terinspirasi dan melakukan hal yang sama.


Selain itu, jadilah contoh dalam menghadapi tantangan dan kegagalan. Jika bisnis sedang berada di masa sulit, tunjukkan sikap positif dan fokus pada solusi.


Misalnya, sekarang bisnis sedang mengalami penurunan penjualan. Jangan langsung menyalahkan tim Anda. Ajak mereka untuk bersama-sama mencari tahu penyebabnya dan merumuskan strategi baru yang relevan.


Sikap Anda yang positif dan konstruktif akan menular ke tim, membuat mereka lebih proaktif dalam mencari solusi.


Mengubah Pola Pikir Karyawan/Tim Bisnis Kuliner Anda

Anda tentu tidak ingin Anda sendirian yang hanya memiliki pola pikir untuk terus berkembang. Namun, dibanding memaksa bagaimana tim harus bersikap, sebaiknya lakukan 3 hal ini:


1. Memberikan Contoh Melalui Tindakan

Apabila Anda ingin karyawan juga memiliki growth mindset, Anda harus menunjukkan hal tersebut dalam keseharian Anda.

Dari sini, Anda bisa mencerminkan nilai-nilai dan budaya kerja yang ingin ditanamkan dalam tim.


Contohnya, tunjukkan sikap positif dan terbuka untuk beradaptasi jika ada perubahan besar dalam operasional restoran.


Selain itu, Anda juga dapat berpartisipasi dalam pelatihan dan workshop bersama karyawan. Mereka akan melihat bahwa Anda suka belajar hal-hal baru dan ingin menerapkannya pada bisnis.


Skenario lainnya, jika Anda memutuskan untuk mengubah menu atau konsep restoran, libatkan tim dalam prosesnya. Tunjukkan bahwa Anda juga terbuka terhadap masukan dan siap untuk mencoba hal-hal baru.


2. Menghargai Usaha dan Perkembangan Karyawan

Menghargai usaha dan perkembangan karyawan adalah salah satu cara paling efektif untuk membangun growth mindset dalam tim Anda.


Sebab, Anda menunjukkan bahwa proses dan usaha yang dilakukan oleh mereka lebih penting daripada hasil atau tujuan akhir.


Agar proses ini bisa berjalan lancar, Anda bisa membuat sistem pengakuan prestasi yang terstruktur dan berkala. Misalnya, penghargaan bulanan untuk "Karyawan Terbaik" atau "Si Inovator Bulan X".


Jangan lupa untuk mencatat perkembangan individu, seperti peningkatan keterampilan atau inisiatif baru, dan memberikan feedback yang konstruktif.


3. Memberikan Ruang untuk Karyawan Mencoba Hal Baru/Belajar dari Kesalahan

Untuk benar-benar membangun pola pikir bertumbuh, Anda harus memberikan ruang bagi karyawan untuk mencoba hal baru dan belajar dari kesalahan mereka.


Anda harus menciptakan lingkungan di mana kegagalan tidak dianggap sebagai akhir dari segalanya.


Ketika ada seorang karyawan yang memiliki ide untuk meningkatkan proses layanan atau menambahkan item baru ke menu, dorong mereka untuk mencobanya.


Berikan mereka dukungan yang diperlukan dan biarkan mereka mengeksplorasi ide tersebut. Jika ide tersebut tidak berhasil, jangan langsung memberikan hukuman.


Namun, ajak mereka untuk menganalisis apa yang tidak berjalan sesuai rencana dan mencari solusi bersama.


Contoh lainnya, ketika ada kesalahan dalam operasional, seperti pesanan yang salah atau pelayanan yang lambat.


Alih-alih menghukum karyawan yang bersangkutan, gunakan kesempatan tersebut untuk mengadakan sesi evaluasi.


Diskusikan apa yang menyebabkan kesalahan tersebut dan bagaimana cara menghindarinya di masa depan. Ini akan membantu karyawan merasa lebih percaya diri untuk mencoba hal-hal baru dan belajar dari setiap pengalaman.


Kesimpulan

Mengadopsi growth mindset bisa jadi kunci sukses yang Anda cari untuk mempertahankan dan mengembangkan potensi bisnis.


Soalnya dengan pola pikir ini, Anda dan tim bisa terus belajar, berkembang, dan menghadapi tantangan dengan lebih percaya diri.


Hal ini tidak hanya membuat bisnis Anda bertahan, tapi juga berkembang di tengah persaingan yang ketat.


Ketika tim merasakan bahwa setiap usaha mereka dihargai, mereka juga akan lebih termotivasi untuk berinovasi.


Jadi, mulai tinggalkan fixed mindset sekarang! Ambil langkah kecil dan mulai lakukan perubahan positif yang berdampak baik pada bisnis kuliner Anda.

Comments


bottom of page